Sekolah Multikultural SMK Bakti Karya Mitra Jabar Masagi

oleh -287 views
oleh
Ifa bersama koleganya baru saja tiba di bandara Nusawiru Cijulang untuk menghadiri festival 28 bahasa di SMK Bakti Karya Parigi.

PANGANDARAN – Ketua tim Naskah Akademik Jabar Masagi, Ifa H. Misbach, MA menghadiri festival 28 bahasa di sekolah Multikultural SMK Bakti Karya yang beralamat di Dusun Cikubang, Desa Cintakarya, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran.

Ifa bersama koleganya tiba di bandara Nusawiru pada hari Sabtu, (19/10/2019) sekitar pukul 13.00 WIB langsung menuju pusat kegiatan di SMK Bakti Karya.

Dalam kesempatan itu Ifa mengatakan, sebenarnya ini harapan dari Jawa Barat atas riset tingginya intoleransi, karena Jawa Barat adalah provinsi terpadatnya penduduk di Indonesia.

“Jadi di antara isu intoleransi tinggi sekolah ini menjadi harapan dan mutiara yang membumingkan nilai-nilai kemanusiaan, kita bisa sama-sama melihat manusia itu terlepas agama, suku dan latar belakang nya apa,” kata Ifa.

Sedangkan teloransi itu menurut Ifa tida bisa diseminarkan, workshop atau kemah bareng yang hitungannya hari. Jadi kata dia, harus ada ruang kehidupan, maka sekolah multikultural ini mampu membumingkan yang disebut ruang perjumpaan.

“Karena prasangka itu dimulai dari lingkungan yang homogen, seperti teman mainnya siapa. Misalnya para orang tua membatasi anaknya bermain dengan beda agama contohnya,” ujar Ifa.

Maka dirinya sangat mendukung sekali, karena sekolah multikultural di SMK Bakti Karya ini kata Ifa merupakan mitra Jabar Masagi. Karena Jabar Masagi itu lanjut Ifa, merangkul semua perbedaan bukan menyamakan dan bukan menyeragamkan.

“Kita semua ingin membuat praktek-praktek itu muncul lalu kita indos,” ujarnya.

Pasalnya menurut Ifa, bangsa Indonesia sudah terlalu riuh dan gaduh dengan situasi politik dan identitas agama.

“Kita ingin bangsa Indonesia itu tidak pecah Syiria. Dan kita di Jawa Barat mulai dari inovasi membumingkan nilai-nilai kemanusiaan rill seperti di sekolah multikultural di SMK Bakti Karya ini. Saya percaya membentuk sekolah ini tidak gampang, perlu waktu, keringat dan lainnya. Maksudnya ini gak gampang tapi kita masih bisa kerjakan,” ujarnya. (Memey)